Sebagai
seorang calon guru penggerak sangat penting untuk memiliki sebuah visi yang
ingin diwujudkan kedepannya. Mengapa visi sangat penting bagi seorang guru
penggerak. Pertama dengan adanya visi, seorang guru penggerak akan mampu
membuat standar kerja yang optimal. Sehingga akan membuat pekerjaannya lebih
bermakna. Karena ada beberapa standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Kedua
dengan adanya visi akan meningkatkan semangat kerja dan komitmen guru
penggerak. Ketiga memastikan tujuan dasar sehingga memiliki acuan dasar untuk
berkembang. Keempat dengan adanya visi memiliki pedoman dalam bekerja sebagai
sarana untuk pengambilan keputusan. Dan ini sangat berkaitan erat dengan peran
yang diemban oleh seorang guru penggerak. Karena untuk bisa mewujudkan visi
dibutuhkan guru yang terampil dan memiliki kompetensi sehingga mampu berkontribusi
secara aktif untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Ide
dan materi yang diperoleh dalam modul 1.3. ini secara umum tidak ada perbedaan
yang mendasar dari praktek yang telah dijalankan selama ini. Hanya ada materi
baru yang diperoleh penulis pada modul ini yaitu adanya sebuah pendekatan manajemen
perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang disebut Inkuiri
apresiatif (IA) melalui tahapan BAGJA.
Untuk
dapat mewujudkan visi dan melakukan proses perubahan maka diperlukan sebuah pendekatan atau paradigma.
Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan
seorang pelari yang memiliki tujuan akhir yaitu finish, maka ia butuh peralatan
yang mendukung selama berlatih seperti alat olah raga. Alat olah raga itulah
yang disebut dengan Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan
manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan
IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif
dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan
oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa
dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang
salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang
berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya
untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.
IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi
positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang
memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti
positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam
implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang
telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak
pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.
Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman
yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan
baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan
penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang
dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut
dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara
berkelanjutan. Perubahan yang positif di sekolah tidak akan terjadi jika
pertanyaan yang diajukan mengenai kondisi sekolah saat ini diawali dengan
permasalahan yang terjadi atau mencari aktor sekolah yang melakukan kesalahan.
Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mengapa
capaian hasil belajar siswa rendah?”, “Apa yang membuat rencana kegiatan
sekolah tidak berjalan lancar?”, dan lain sebagainya. Motivasi untuk melakukan
perubahan tentu akan berangsur menurun jika diskusi diarahkan pada
permasalahan. Suasana psikologis yang terbangun tentu akan berbeda jika
pertanyaan diawali dengan pertanyaan positif seperti ini, hal-hal baik apa yang
pernah dicapai murid di kelas? Apa hal menarik yang dapat dipetik pelajarannya
dari setiap guru di kelas? Bagaimana mengembangkan praktik baik setiap guru
untuk dipertahankan sebagai budaya sekolah?
Setelah memahami pendekatan IA selanjutnya ada
langkah langkah yang perlu kita terapkan untuk mewujudkan visi yaitu tahapan
BAGJA. Tahap pertama, Buat
Pertanyaan Utama. Di tahap
ini, merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan
apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, mengumpulkan berbagai
pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat
diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi.
Pada tahapan ini, menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan
diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan
jelas. Tahap ketiga, Jabarkan
Rencana. Di tahapan ini, dapat
merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan
untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang
akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi
perlahan-lahan.
Banyak perubahan yang ingin saya lakukan setelah
memperoleh materi ini. Dimulai dari diri sendiri dengan menggali potensi dan
kekuatan yang dimiliki secara maksimal sehingga menghasilkan semangat untuk
melakukan perubahan dan aksi nyata. Kemudian mensosialisasikan kepada rekan
guru di satuan pendidikan dan komunitas MGMP agar apa yang telah diperoleh
menjadi suatu pengetahuan dan pengalaman yang bermakna sehingga semua guru
dapat bergerak secara bersama menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyenangkan
sesuai visi yang telah ditetapkan sebelumnya. Terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng rekan guru yang lain dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan anak didik kita. Masa depan anak didik kita adalah masa depan bangsa kita Indonesia tercinta.

