Pelangi Aksara

Minggu, 06 Juni 2021

Refleksi Pekan Kelima (Model 4 C)

 

Sebagai seorang calon guru penggerak sangat penting untuk memiliki sebuah visi yang ingin diwujudkan kedepannya. Mengapa visi sangat penting bagi seorang guru penggerak. Pertama dengan adanya visi, seorang guru penggerak akan mampu membuat standar kerja yang optimal. Sehingga akan membuat pekerjaannya lebih bermakna. Karena ada beberapa standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Kedua dengan adanya visi akan meningkatkan semangat kerja dan komitmen guru penggerak. Ketiga memastikan tujuan dasar sehingga memiliki acuan dasar untuk berkembang. Keempat dengan adanya visi memiliki pedoman dalam bekerja sebagai sarana untuk pengambilan keputusan. Dan ini sangat berkaitan erat dengan peran yang diemban oleh seorang guru penggerak. Karena untuk bisa mewujudkan visi dibutuhkan guru yang terampil dan memiliki kompetensi sehingga mampu berkontribusi secara aktif untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ide dan materi yang diperoleh dalam modul 1.3. ini secara umum tidak ada perbedaan yang mendasar dari praktek yang telah dijalankan selama ini. Hanya ada materi baru yang diperoleh penulis pada modul ini yaitu adanya sebuah pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang disebut Inkuiri apresiatif (IA) melalui tahapan BAGJA.

Untuk dapat mewujudkan visi dan melakukan proses perubahan  maka diperlukan sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seorang pelari yang memiliki tujuan akhir yaitu finish, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olah raga. Alat olah raga itulah yang disebut dengan Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Cooperrider, yang adalah tokoh yang mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan. Perubahan yang positif di sekolah tidak akan terjadi jika pertanyaan yang diajukan mengenai kondisi sekolah saat ini diawali dengan permasalahan yang terjadi atau mencari aktor sekolah yang melakukan kesalahan.

Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mengapa capaian hasil belajar siswa rendah?”, “Apa yang membuat rencana kegiatan sekolah tidak berjalan lancar?”, dan lain sebagainya. Motivasi untuk melakukan perubahan tentu akan berangsur menurun jika diskusi diarahkan pada permasalahan. Suasana psikologis yang terbangun tentu akan berbeda jika pertanyaan diawali dengan pertanyaan positif seperti ini, hal-hal baik apa yang pernah dicapai murid di kelas? Apa hal menarik yang dapat dipetik pelajarannya dari setiap guru di kelas? Bagaimana mengembangkan praktik baik setiap guru untuk dipertahankan sebagai budaya sekolah?

Setelah memahami pendekatan IA selanjutnya ada langkah langkah yang perlu kita terapkan untuk mewujudkan visi yaitu tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Banyak perubahan yang ingin saya lakukan setelah memperoleh materi ini. Dimulai dari diri sendiri dengan menggali potensi dan kekuatan yang dimiliki secara maksimal sehingga menghasilkan semangat untuk melakukan perubahan dan aksi nyata. Kemudian mensosialisasikan kepada rekan guru di satuan pendidikan dan komunitas MGMP agar apa yang telah diperoleh menjadi suatu pengetahuan dan pengalaman yang bermakna sehingga semua guru dapat bergerak secara bersama menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyenangkan sesuai visi yang telah ditetapkan sebelumnya. Terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng rekan guru yang lain dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan anak didik kita. Masa depan anak didik kita adalah masa depan bangsa kita Indonesia tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar