a. Pendahuluan
Sebaik
apapun kurikulum, teknologi pendidikan, sarana prasarana serta infrastruktur di
satuan pendidikan, tidak ada yang bisa menggantikan peran dari seorang guru.
Sebagai guru penggerak yang baik perlu memahami nilai dan peran yang diembannya
dengan penuh tanggung jawab agar menemukan jati diri sebagai guru penggerak.
Yang siap memajukan pendidikan di Indonesia dengan menciptakan pembelajaran
yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik.
Pendorong transformasi pendidikan di Indonesia yang memiliki esensi bahwa
kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka
mengajarkannya kepada murid.
Nilai diri yang
wajib melekat pada guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif dan berpihak pada murid. Nilai
yang merupakan keyakinan sebagai suatu standar yang mengarahkan perbuatan dan
pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Peran guru
penggerak adalah pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas, menjadi coach
bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan
murid. Peran dari guru penggerak akan lebih maksimal jika memiliki ketrampilan
sesuai dengan tujuan pendidikan dan bisa menghadirkan perubahan yang nyata bagi
pendidikan. Nilai dan peran guru penggerak tidak lepas dari sebuah capaian dan
profil diri yang mampu menerapkan prinsip pengembangan untuk menggerakkan
sebuah lokomotif perubahan diantaranya mampu merumuskan nilai diri yang selaras
dengan upaya menuntun murid menuju profil pelajar pancasila. Oleh karena itu guru memiliki peran
yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya.
Karena guru sebagai ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan. Salah satu
kemampuan dasar seorang guru adalah kreatif melaksanakan proses belajar
mengajar baik pada proses pemilihan bahan ajar, metode maupun media yang
digunakan sebagai penunjang pembelajaran agar sesuai dengan nilai dan perannya sebagai
seorang guru penggerak.
b. Aksi
nyata nilai dan peran guru penggerak
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu
pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak agenda kebijakan yang telah dilaksanakan
termasuk penerapan kebijakan merdeka
belajar. Merdeka belajar adalah program kebijakan baru kementerian pendidikan
dan kebudayaan Indonesia yang dicanangkan oleh Menteri Nadiem Makarim. Esensi
kemerdekaan berpikir menurut Nadiem harus didahului oleh guru sebelum mereka
mengajarkannya pada anak didik. Karena dalam kompetensi guru di level manapun tanpa ada proses penerjemahan
dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan ada pembelajaran
yang terjadi. Konsep merdeka belajar terdorong karena keinginan menciptakan
suasana belajar yang bahagia tanpa pencapaian skor atau nilai tertentu.
Karena perubahan kebijakan pendidikan sejatinya tidak
cukup hanya dengan perubahan dari sektor kurikulum, baik struktur maupun
prosedur perumusannya. Pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti
oleh perubahan praktek pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Indikator
pembaharuan kurikulum ditunjukkan dengan adanya perubahan pada pola kegiatan
pembelajaran, pemilihan media pendidikan, penentuan pola penilaian yang
menentukan hasil pendidikan. Oleh karena itu guru memiliki peran yang sangat
penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa guru merupakan komponen
paling strategis dalam proses pendidikan. Guru harus memikirkan dan membuat
perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya
dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan perubahan
dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar
mengajar maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar
mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar bertindak
selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang
efektif sehingga memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung secara
efektif, mengembangkan bahan pembelajaran dengan baik dan meningkatkan
kemampuan siswa dalam memahami pelajaran.
Memasuki
pekan ketiga pengetahuan penulis semakin tercerahkan dengan nilai dan peran
guru penggerak. Salah satu peran yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah
mendorong meningkatkan prestasi akademik siswa melalui permainan kartu tajwid
pada materi Hukum bacaan Alif lam syamsiyah dan alif lam qomariyah. Dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam ada banyak materi yang tingkat kesulitannya
tinggi menurut sebagian siswa, meski bagi sebagian siswa yang lain materi
tersebut tergolong mudah. Salah satu materi yang dianggap sulit adalah materi
tajwid Hukum bacaan Alif lam syamsiyah
dan alif lam qomariyah.
Berdasarkan
pengalaman untuk materi ini tingkat kesulitannya tinggi terbukti dengan hasil
perolehan nilai siswa sangat rendah dan belum mencapai standar ketuntasan
minimal. Berdasarkan hal tersebut penulis mencoba mendesain pembelajaran dengan
sedikit berbeda yaitu dengan menggunakan metode permainan kartu untuk
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi tersebut. Untuk strategi
pembelajaran di kelas dengan konsep berdering permainan kartu yang dilakukan
pertama kali adalah membuat komitmen kelas secara bersama dan harus ditaati
sepenuhnya dengan penuh tanggung jawab. Kemudian membentuk kelompok dengan pola
menuliskan hobi dimasing masing kertas dan yang memiliki hobi yang sama
dikelompokkan bersama. Mengapa ini dilakukan untuk membuat peserta didik merasa
nyaman ketika mereka berkelompok dengan teman yang memiliki hobi yang sama.
Setelah kelompok terbentuk guru menjelaskan konsep pembelajaran yang akan
dilakukan. Mulai dengan membagi kartu dan menjelaskan cara permainannya. Setiap
peserta didik dibagi sejumlah kartu kartu secara acak sebanyak 5 kartu. Peserta
didik akan membuang kartu sesuai dengan kata kunci. Peserta didik yang paling
cepat menghabiskan kartunyalah yang akan menjadi pemenang. Sistim permainan ini
sangat efektif, sehingga dengan konsep
permainan kartu seperti ini pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran
lebih meningkat.
Penulis
merasa sangat senang mendapati kenyataan ketika peserta didik sangat antusias
dan menikmati permainan kartu, setelah sebelumnya mendapat pengarahan tentang
bagaimana cara memainkan kartu tersebut.
Peserta didik seolah bukan belajar tetapi sedang melakukan permainan.
Padahal sejatinya mereka telah menerapkan dan memahami dengan baik konsep
materi hukum alif Lam Syamsiah dan alif lam qomariah yang dianggap sulit
melalui permainan kartu.
Untuk membuat peserta didik nyaman dan merasa tidak tertekan adalah dengan membuat suasana kelas yang menyenangkan. Mereka perlu di bawa ke suasana kelas yang lebih santai sambil tetap mengarahkan agar tujuan yang ingin dicapai terwujud. Dan lihatlah ketika permainan berakhir yang berhasil menghabiskan kartu ditangan adalah pemenangnya. Lihatlah betapa riuhnya kelas ketika pemenang merayakan kemenangan dengan sangat gembira. Ada banyak hal positif atau praktek baik yang dapat diambil dari kejadian di kelas yaitu (1) Peserta didik lebih menikmati belajar dengan cara tersebut (2) Semua peserta didik terlibat aktif (3) Peserta didik lebih cepat memahami materi (4) Suasana kelas yang sangat mendukung ekosistem pembelajaran (5) Peserta didik bisa saling mengajari temannya yang belum paham sehingga sangat efektif bagi proses pembelajaran (tutor sebaya) (6) Tujuan yang diinginkan tercapai (7) Guru hanya mendampingi dan mengarahkan saja (8) Proses pembelajaran berpusat pada peserta didik. Kendala yang penulis hadapi dalam mengimplementasikan metode permainan kartu ini antara lain (1)Suasana kelas yang sedikit riuh sehingga kadang mengganggu kelas disebelah (2) Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama dari alokasi jam pelajaran (3) Perlu kesabaran ekstra mengelola kelas karena sifatnya permainan. Ketika metode ini diterapkan di kelas pertama kali timbul ide untuk menulisnya menjadi sebuah karya ilmiah dengan sedikit modifikasi agar tampilan kartunya menarik. Mengingat tampilan kartu yang dipakai pertama kali adalah dari bahan bekas pakai yaitu potongan kardus bekas. Timbul ide untuk memodifikasinya dari kertas warna warni sehingga tampilannya lebih menarik. Dan melakukan modifikasi kartu seperti tampilan kartu flash. Pada bagian depan terdapat pertanyaan dan pada bagian belakang jawabannya. Sehingga peserta didik bisa lebih cepat paham.
c.
Penutup
Setelah
penulis menganalisa rentetan peristiwa yang terjadi di kelas dapat ditarik
kesimpulan bahwa penerapan metode permainan kartu dapat meningkatkan pemahaman
peserta didik pada materi yang dianggap sulit (hukum bacaan alif lam syamsiah
dan alif lam qomariyah) sangat efektif dilakukan. Metode itu dapat diterapkan
di kelas dan hasilnya sangat maksimal yang dibuktikan dengan peningkatan hasil
belajar belajar peserta didik yang meningkat dan respon dari sema peserta didik
yang sangat senang dengan pola pembelajaran dengan permainan kartu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar