Bagaimana menjadi sosok yang
siap untuk menulis yang dimulai dari ketidaksempurnaaan. Menurut Aris Ahmad
Jaya penulis best seller “30 Hari Mencari Jati Diri” menjadi penulis adalah suatu keharusan bagi guru.
Tugas guru ada empat yaitu mengajar, mendidik, menginspirasi dan terakhir
menggerakkan. Keempatnya bisa dilakukan dengan menulis.
Buku jauh lebih mengakar
dari penulisnya. Buku 30 hari mencari jati diri contohnya, menjadi kisah yang
sangat menginspirasi.. Bagaimana sebuah buku lebih dikenal pembaca daripada
penulisnya. Beliau pernah naik bus dan duduk dengan penumpang di sebelahnya
yang sedang membaca buku. Pembaca buku sama sekali tidak mengenali jika orang
yang menulis buku yang dibacanya sedang ada di sebelahnya. Beliau hanya
tersenyum melihat orang di sebelahnya. Aris Ahmad jaya mengakui jika
identitasnya sengaja disembunyikan. Tetapi karya (buku) tidak bisa
disembunyikan.
Dengan menulis usiamu akan lebih panjang dari umurmu Buku akan memberikan inspirasi bagi banyak orang. Demikian juga dengan penulis buku. Dengan menulis kita akan meninggalkan jejak sejarah Pemenang tidak pernah menyerah dan orang yang menyerah tidak pernah menjadi pemenang. Itu adalah satu kalimat yang sangat memotivasi yang disampaikan oleh Aris Ahmad Jaya. Dengan menulis kita akan tetap hidup. Dengan menulis kita akan terkoneksi dengan masa lalu dan masa depan. Dengan menulis kita akan tetap hadir meskipun kita telah tiada. Orang orang besar adalah orang orang yang meninggalkan jejak.
Sebuah cerita yang tertulis
mampu mempertemukan otak kiri dan kanan dalam imajinasi yang nyata. Dan ini
tidak bisa diwakili oleh sebuah film hebat sekalipun. Karena imajinasi akan
lebih dahsat dari visualisasi. Pernah anda menonton film dari sebuah buku best
seller? Begitu menonton film anda bisa merasakan bahwa imajinasi yang tertulis
dalam bukunya lebih dahsyat dari visualisasi filmnya. Itulah dahsyatnya
kekuatan sebuah buku atau tulisan.
Sebuah tulisan yang bagus
akan mempesona, menggugah, melahirkan senyum, tawa dan tangis. Ekspresi sedih
dan gembira bahkan dapat menggerakkan dan memotivasi pembaca. Jika membaca
kisah sedih tak terasa pembaca ikut terhanyut dalam cerita yang ditulis. Disisi
lain ketika suguhan cerita itu lucu tak jarang pembaca ikut tersenyum sendiri.
Itulah efek dari sebuah tulisan yang mampu menggugah pembaca.
Menulis mengikat ide dan
gagasan. Gagasan bisa muncul ibarat petir di siang bolong yang melesat dan
menggelegar begitu cepat. Oleh karena itu ikatlah ide dan gagasan itu dengan
tulisan. Ide bisa muncul tanpa kita duga. Ketika gagasan muncul segeralah
mengambil langkah untuk menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran anda.
Menulisnya di handphone atau di secarik kertas agar ide tersebut tidak hilang
lenyap.
Menulis itu mencurahkan rasa.
Sebagai contoh saat anda menulis cerita fiksi tentang semua yang anda lihat, anda
alami dan anda rasakan dapat tertuang dalam sebuah tulisan. Mulailah menulis
darimana saja yang menjadi minat anda dan anda sukai. Apa yang anda rasakan,
suka duka yang anda alami bahkan emosi anda ikut hadir dan tercurah dalam
tulisan anda. Apa yang anda tulis bisa
jadi akan menjadi sebuah tulisan yang menarik dan memotivasi banyak orang.
Menulis itu berbagi dan
menginspirasi. Ide dan gagasan yang mungkin jika tidak tertulis hanya akan
menjadi ide dalam kepala anda semata. Tetapi ketika anda menuangkannya dalam
sebuah tulisan atau sebuah buku, itu
artinya anda sudah berbagi dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal hal
yang luar biasa. Berjalanlah, ditengah jalan anda akan bertemu jalan. Jika
tidak bertemu jalan, buatlah jalan maka orang lain akan mengikuti jalanmu.
Nilai anda bukanlah karena anda bernilai,
tetapi karena anda telah memberi sentuhan emas. Menginspirasi banyak orang
lewat karya dan tulisan anda. Selamat berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar