Buku adalah mahkota seorang penulis merupakan
sebuah ungkapan yang sangat memotivasi
disampaikan oleh bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. Karena secerdas dan sepintar apapun seseorang apabila belum
menulis apalagi menerbitkan buku, maka ilmunya akan sia sia. Menulislah setiap
hari dan buktikan apa yang terjadi adalah sebuah kalimat yang juga sering
dikatakan oleh Bapak Wijaya Kusuma seorang motivator, blogger yang memberi
inspirasi dan ruang berkreasi bagi guru seluruh Indonesia. Dengan menulis akan meninggalkan jejak sejarah
meski sudah tiada dan menjadi sesuatu
yang sangat berkesan untuk dikenang kembali.
Masalah yang sering dijumpai oleh
penulis pemula adalah dari mana akan mulai menulis, apa yang akan kita tulis, menjadi
suatu pertanyaan yang sering muncul dibenak. Kebingungan yang lumrah terjadi
pada tahap awal. Tetapi jika dilatih untuk terus menulis setiap hari akan
terbiasa dan menulis akan menjadi suatu kebiasaan yang mudah untuk dilakukan. Menulis
adalah pekerjaan yang telah dilakukan sejak kita diperkenalkan huruf pada saat
berumur lima tahun di taman kanak kanak atau oleh orang tua di rumah. Satu
persatu huruf menjadi akrab dalam ingatan yang dilanjutkan dengan belajar
menulis huruf. Menjadi aneh rasanya jika setelah menjadi guru atau memilik
profesi apapun menulis menjadi pekerjaan yang sulit. Padahal pekerjaan tersebut
telah kita lakoni sejak kecil.
Umumnya orang beranggapan bahwa
menulis buku memerlukan bakat istimewa atau karena pintar dan jenius. Padahal
sejatinya menulis buku bukan karena bakat atau kecerdasan tetapi karena ada
niat dan kemauan. Menulis merupakan ketrampilan yang bisa dicapai dengan
kebiasaan yang dilatih secara terus menerus. Dengan kata lain menulis dapat
dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Setiap orang bisa menulis, mulai
dari menulis diari atau catatan harian, surat cinta, status di media sosial,
menulis di WhatApp, menulis sms, menulis di Koran atau bahkan menulis buku.
Menulis buku bukanlah sesuatu yang
rumit atau sulit karena semua
orang pasti bisa menulis. Hal yang harus dilakukan adalah memperbanyak membaca
agar memperluas wawasan. Semakin banyak membaca semakin mudah menuangkan ide
atau gagasan kedalam sebuah tulisan. Perlu diingat bahwa untuk melakukan suatu
pekerjaan misalnya menulis buku lakukanlah dengan adanya niat dan kemauan serta
hati yang bahagia agar terasa lebih ringan dan tidak membosankan.
Kendala yang sering dihadapi penulis
pemula adalah bingung memulai dari mana. Seringkali penulis kesulitan untuk
menulis kalimat yang tepat di tahap awal sebuah tulisan. Perlu perjuangan dan
pengorbanan untuk memulai menulis. Mengawali sebuah tulisan pada tahap awal
mungkin terasa agak sulit , tetapi bukan berarti kesulitan tersebut menjadi
alasan untuk tidak menghasilkan sebuah tulisan. Cobalah menulis ide pokoknya
dulu, jika tetap kesulitan buatlah beberapa kalimat yang menggambarkan ide yang
ingin ditulis. Tulislah apapun yang ingin ditulis kemudian dibaca ulang dan
pilihlah yang paling menarik dari apa yang telah kita tulis kemudian kembangkan
dengan menulis berdasarkan referensi yang telah diperoleh.
Selanjutnya yang sering menjadi
kendala dalam tahap menulis pemula adalah mencemaskan aturan baku penulisan
atau PUEBI. Jangan khawatirkan aturan baku tersebut, menulislah karena
kecemasan itu hanya akan melunturkan semangat. Rasa cemas inilah yang membuat
penulis takut dan kesulitan untuk mulai menulis. Untuk menghindari hal tersebut
dengan cara mengabaikannya. Tulislah apa yang ingin ditulis dan setelah selesai
bacalah secara berulang ulang dan mulai
untuk dikoreksi kembali.
Alasan lain yang diungkap seseorang tidak dapat menulis buku adalah karena tidak mempunyai waktu atau kesibukan yang padat dan malas untuk memulai. Padahal hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan manajemen waktu yang baik. Dengan membagi waktu sepulang dari rutinitas kerja luangkan waktu khusus untuk menulis, entah itu hanya satu atau dua jam pada malam hari. Penulis sukses kadang bisa menyempatkan diri membuat sebuah tulisan lewat handphone saat berada dalam kereta api, atau mobil. Penulis penulis sukses adalah orang orang yang memiliki kesibukan yang luar biasa tetapi mereka masih bisa menulis dan menghasilkan karya atau buku. Jika orang lain bisa melakukan hal tersebut di tengah kesibukan yang sangat padat lalu mengapa kita tidak bisa. Semuanya bisa dilakukan dengan mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa menghasilkan sebuah tulisan. Setelah menulis lalu bagaimana cara menerbitkannya menjadi sebuah karya atau sebuah buku. Jangan putus ada jangan menyerah, karena banyak cara yang bisa kita lakukan. Salah satu cara adalah menerbitkan buku melalui Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) yang turut berperan serta mengorganisir gerakan meningkatkan kualitas dan kuantitas literasi Indonesia dengan fokus menerbitkan buku. Dengan komitmen membantu para penulis dari berbagai profesi untuk memiliki buku berlisensi ISBN tanpa biaya, perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Bersama kita bisa membantu pemerintah Republik Indonesia dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui profesi masing masing, membaca kemudian menulis adalah kegiatan mulia. Diperlukan suatu gerakan bersama yang sistematis untuk mensukseskan program pemerintah dalam hal mencerdakan kehidupan bangsa. Menerbitkan buku muara dari menulis, kehadiran penulis abadi sepanjang masa ketika bukunya menjadi asset Negara yang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Menulis dan menerbitkan buku bisa menambah teman, menambah wawasan serta memberikan kebahagiaan untuk kemaslahatan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar