Berbagai
cerita dan kisah menarik terangkai
dibalik wabah Covid 19 yang melanda hampir seluruh wilayah di dunia. Bagi
sebagian orang wabah ini dianggap sebagai musibah sementara sebagian orang yang
lain yang bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, menganggap sebagai suatu
kesempatan dan “berkah”. Salah seorang yang menganggap wabah ini sebagai berkah
untuk menghasilkan karya terbaik adalah perempuan inspiratif bernama Noralia
Purwa Yunita, M.Pd. Alumni gelombang 8 kelas menulis online yang digagas oleh
Om Jay. Buku dan berbagai artikel turut lahir di masa pandemic ini. Salah satu
artikelnya dimuat di majalah pedidikan Geliat Gemilang Bandung. Untuk
menghasilkan berbagai karya tentunya
tidak lepas hambatan dan kendala yang mengiringi selama proses pengerjaan karya
tersebut. Apalagi di masa pandemic seperti saat ini para guru lebih disibukkan
dengan berbagai kegiatan pembelajaran, karena untuk pembelajaran daring jauh
lebih banyak persiapan daripada tatap muka. Untuk bisa menulis dengan baik dan
menghasilkan karya berupa buku diperlukan beberapa strategi agar sukses
diantaranya adalah:
1. Membuat
Skala Prioritas
Skala prioritas adalah ukuran
kebutuhan yang tersusun dalam daftar berdasarkan tingkat kebutuhan dimulai dari
kebutuhan yang penting dari beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Agar
bisa menulis dengan baik kita perlu memperhatikan skala prioritas. Cara ini
dianggap efektif untuk menyelesaikan
berbagai macam masalah yang dihadapi dalam menulis. Tidak bisa dipungkiri bahwa
sistem pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh guru selama pandemi ini
memerlukan cadangan energy yang ekstra. Banyak kegiatan juga menjadi kendala
utama. Oleh karena itu skala prioritas menjadi solusi terbaik agar semua pekerjaan
bisa terselesaikan. Cara membuat skala prioritas yang patut kita coba adalah:
1. Kumpulkan
daftar semua tugas, terutama tugas yang harus diselesaikan dalam waktu sehari,
jangan khawatir terkait jumlah tugas tersebut.
2. Identifikasi
tugas, dengan menyeleksi tugas tersebut berdasarkan kepentingan. Dahulukan terlebih dahulu tugas yang penting dan mendesak serta nilai pula tugas mana
yang sekiranya akan membawa nilai tinggi.
3. Kerjakan
tugas dari urutan yang lebih mudah ke urutan yang lebih sulit, Sebab terkadang
bila mendahulukan yang sulit akan banyak menyita waktu untuk tugas tugas yang
lain.
4. Fleksibel,
dengan segala perubahan akan tugas atau kegiatan didepan lantaran bisa saja secara mendadak membebani dengan tugas lain yang baru dan
mendesak.
Dengan
cara membuat skala prioritas di atas, semua pekerjaan dapat diselesaikan sesuai
tenggat waktu yang dibutuhkan. Dengan begitu produktivitas dalam menulis akan
bisa meningkat.
2. Singkirkan
rasa malas dan jenuh
Malas dan jenuh ketika menulis menjadi masalah kedua.karena mengerjakan kegiatan yang sama berulang ulang. Jika penyakit itu menghinggapi beralihlah ke kegiatan lain sebagai refreshing, seperti menonton film, baca novel atau apapun kegiatan yang membuat kita nyaman. Jika baterei semangat sudah penuh langsung tancap gas untuk kembali berkarya. Jangan biarkan malas dan jenuh hinggap terlalu lama, cukup 1-2 hari untuk bersantai lalu kembali untuk menulis. Kunci keberhasilan seorang penulis adalah menciptakan semangat dan konsistensi. Apabila semangat sudah tumbuh dan mendarah daging, maka ketika datang rasa jenuh dan malas, semangat itu yang akan mendorong untuk segera bangkit dan kembali untuk segera menulis.
3. Krisis
Ide
Hal yang sangat umum dan dirasa sulit adalah ketika penulis mengalami krisis ide. Krisis ide menjadi kendala ketiga yang harus segera disingkirkan. Ketika bingung mau menulis apa atau menentukan topic apa yang ingin kita tulis bisa dilakukan dengan memilih topic atau tema yang sesuai dengan minat kita. Bahkan ketika membaca surat kabar ada satu pargraf yang menarik hati kita, segera kita tulis kemudian ditambahi gagasan atau ide, sanggahan atau menambah data lain yang diperoleh dari referensi yang berbeda. Setelah tulisan yang ingin disampaikan sudah berparagraf paragraf tidak ada salahnya keluar sebentar sambil refreshing untuk rilek. Setelah merasa rilek bisa melanjutkan dengan menambah kalimat penjelas dibelakang poin poin yang telah kita tulis. Untuk itu diperlukan jurus bahwa apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita alami dapat kita jadikan ide untuk tulisan kita. Saat kita refreshing apa yang kita alami dan kita rasakan saat itu bisa menjadi ide tulisan. Intinya apapun yang kita rasakan dan pikirkan dapat diubah menjadi sebuah tulisan. Barangkali lebih menjiwai dan siapa tahu dari hasil corat coretan tadi bisa menjadi novel. Bukankah di dunia ini banyak ketidakpastian? Termasuk kita tidak tahu kepastian nasib tulisan kita. Karena banyak novel best seller awalnya hanyalah hasil iseng iseng ingin menuangkan perasaan dan kegelisahannya.
4. Perbendaharaan
Diksi
Hal yang kerap melanda penulis salah
satunya adalah perbendaharaan diksi. Dalam pemilihan diksi ungkapan yang
ditulis harus dapat dipahami, dengan tetap memprhatikan kaidah makna, kalimat
dan sosial. Terkadang kelemahan segelintir penulis adalah memilih diksi anti mainstream tingkat tinggi, namun tidak
melakukan croschek arti kata
sebernanya dalam PUEBI. Jadi cukup banyak yang terbelenggu dalam pemilihan
diksi. Perbendaharaan diksi menjadi menjadi masalah tersendiri dalam menulis. Jika sudah mentok dalam kosa
kata biasa membaca artikel orang lain atau novel atau karya apapun karena
dengan banyak membaca akan memperbanyak perbendaharaan diksi kita.
5. Takut
Salah
Pada awal bergabung perasaan takut
salah sering muncul. Tetapi Om Jay meyakinkan bahwa tulis saja apa yang kita
pikirkan jangan permasalahkan EYD atau kaidah kebahasaan yang lain cukup tulis
saja hingga selesai. Jika sudah membaca berulang ulang lalu lakukan editing
sesuai kaidah. Jika sejak awal memilikirkan EYD maka tidak akan terwujud
tulisan. Dengan mempraktekkan langsung akhirnya tulisan mengalir sendiri. Sebenarnya
kalimat itu adalah untuk memotivasi orang orang yang ingin belajar menulis.
Tujuannya adalah melahirkan sebuah
persepsi bahwa memang menulis itu mudah sekali. Tulis saja apa yang ada dan
kita alami. Umumnya semua pemula dalam hal apapun takut melakukan kesalahan.
Rasa takut itulah yang menjadi beban yang akhirnya justru membuat kita terjebak
dalam kesalahan. Tidak takut salah dalam menulis akan membuat kita lebih cepat
bisa dan berani mengungkapkan isi kepala dan hati. Sehingga memiliki keberanian
dan kepercayaan diri terhadap hasil tulisan kita. Untuk bisa menulis dengan
baik perbanyak membaca setelah itu tentukan tema yang akan ditulis dan mencari
referensi baik dari buku sejenis atau jurnal ilmiah, lalu dan menulislah.
Fokuslah pada tema yang ingin ditulis hingga selesai.Yang paling penting dari
penulisan buku adalah dengan membuat outline agar tulisan kita tidak keluar
dari tema.
Berkarya ketika
waktu luang itu biasa namun berkarya di tengah kesibukan yang luar biasa itu
istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar