Pelangi Aksara

Minggu, 06 Desember 2020

Jurus menulis sukses ala Noralia Purwanita, M.Pd.

 

Berbagai cerita dan kisah menarik  terangkai dibalik wabah Covid 19 yang melanda hampir seluruh wilayah di dunia. Bagi sebagian orang wabah ini dianggap sebagai musibah sementara sebagian orang yang lain yang bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, menganggap sebagai suatu kesempatan dan “berkah”. Salah seorang yang menganggap wabah ini sebagai berkah untuk menghasilkan karya terbaik adalah perempuan inspiratif bernama Noralia Purwa Yunita, M.Pd. Alumni gelombang 8 kelas menulis online yang digagas oleh Om Jay. Buku dan berbagai artikel turut lahir di masa pandemic ini. Salah satu artikelnya dimuat di majalah pedidikan Geliat Gemilang Bandung. Untuk menghasilkan berbagai karya  tentunya tidak lepas hambatan dan kendala yang mengiringi selama proses pengerjaan karya tersebut. Apalagi di masa pandemic seperti saat ini para guru lebih disibukkan dengan berbagai kegiatan pembelajaran, karena untuk pembelajaran daring jauh lebih banyak persiapan daripada tatap muka. Untuk bisa menulis dengan baik dan menghasilkan karya berupa buku diperlukan beberapa strategi agar sukses diantaranya adalah:

1.      Membuat Skala Prioritas

            Skala prioritas adalah ukuran kebutuhan yang tersusun dalam daftar berdasarkan tingkat kebutuhan dimulai dari kebutuhan yang penting dari beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Agar bisa menulis dengan baik kita perlu memperhatikan skala prioritas. Cara ini dianggap  efektif untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang dihadapi dalam menulis. Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh guru selama pandemi ini memerlukan cadangan energy yang ekstra. Banyak kegiatan juga menjadi kendala utama. Oleh karena itu skala prioritas menjadi solusi terbaik agar semua pekerjaan bisa terselesaikan. Cara membuat skala prioritas yang patut kita coba adalah:

1.     Kumpulkan daftar semua tugas, terutama tugas yang harus diselesaikan dalam waktu sehari,                 jangan khawatir terkait jumlah tugas tersebut.

2.      Identifikasi tugas, dengan menyeleksi tugas tersebut berdasarkan kepentingan. Dahulukan                      terlebih         dahulu tugas yang penting dan mendesak serta nilai pula tugas mana yang                            sekiranya           akan membawa nilai tinggi.

3.     Kerjakan tugas dari urutan yang lebih mudah ke urutan yang lebih sulit, Sebab terkadang bila                  mendahulukan yang sulit akan banyak menyita waktu untuk tugas tugas yang lain.

4.     Fleksibel, dengan segala perubahan akan tugas atau kegiatan  didepan lantaran bisa saja secara                mendadak  membebani dengan tugas lain yang baru dan mendesak.

Dengan cara membuat skala prioritas di atas, semua pekerjaan dapat diselesaikan sesuai tenggat waktu yang dibutuhkan. Dengan begitu produktivitas dalam menulis akan bisa meningkat.

2.      Singkirkan rasa malas dan jenuh

            Malas dan jenuh ketika menulis menjadi masalah kedua.karena mengerjakan kegiatan yang sama berulang ulang. Jika penyakit itu menghinggapi beralihlah ke kegiatan lain sebagai refreshing, seperti menonton film, baca novel atau apapun kegiatan yang membuat kita nyaman. Jika baterei semangat sudah penuh langsung tancap gas untuk kembali berkarya. Jangan biarkan malas dan jenuh hinggap terlalu lama, cukup 1-2 hari untuk bersantai lalu kembali untuk menulis. Kunci keberhasilan seorang penulis adalah menciptakan semangat dan konsistensi. Apabila semangat sudah tumbuh dan mendarah daging, maka ketika datang rasa jenuh dan malas, semangat itu yang akan mendorong untuk segera bangkit dan kembali untuk segera menulis.

3.      Krisis Ide

            Hal yang sangat umum dan dirasa sulit adalah ketika penulis mengalami krisis ide. Krisis ide menjadi kendala ketiga yang harus segera disingkirkan. Ketika bingung mau menulis apa atau menentukan topic apa yang ingin kita tulis bisa dilakukan dengan memilih topic atau tema yang sesuai dengan minat kita. Bahkan ketika membaca surat kabar ada satu pargraf yang menarik hati kita, segera kita tulis kemudian ditambahi gagasan atau ide, sanggahan atau menambah data lain yang diperoleh dari referensi yang berbeda. Setelah tulisan yang ingin disampaikan sudah berparagraf paragraf tidak ada salahnya keluar sebentar sambil refreshing untuk rilek. Setelah merasa rilek bisa melanjutkan dengan menambah kalimat penjelas dibelakang poin poin yang telah kita tulis. Untuk itu diperlukan jurus bahwa apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita alami dapat kita jadikan ide untuk tulisan kita. Saat kita refreshing  apa yang kita alami dan kita rasakan saat itu bisa menjadi ide tulisan. Intinya apapun yang kita rasakan dan pikirkan dapat diubah menjadi sebuah tulisan. Barangkali lebih menjiwai dan siapa tahu dari hasil corat coretan tadi bisa menjadi novel. Bukankah di dunia ini banyak ketidakpastian? Termasuk kita tidak tahu kepastian nasib tulisan kita. Karena banyak novel best seller awalnya hanyalah hasil iseng iseng ingin menuangkan perasaan dan kegelisahannya.

4.      Perbendaharaan Diksi

            Hal yang kerap melanda penulis salah satunya adalah perbendaharaan diksi. Dalam pemilihan diksi ungkapan yang ditulis harus dapat dipahami, dengan tetap memprhatikan kaidah makna, kalimat dan sosial. Terkadang kelemahan segelintir penulis adalah memilih diksi anti mainstream tingkat tinggi, namun tidak melakukan croschek arti kata sebernanya dalam PUEBI. Jadi cukup banyak yang terbelenggu dalam pemilihan diksi. Perbendaharaan diksi menjadi menjadi masalah tersendiri  dalam menulis. Jika sudah mentok dalam kosa kata biasa membaca artikel orang lain atau novel atau karya apapun karena dengan banyak membaca akan memperbanyak perbendaharaan diksi kita.

5.      Takut Salah

            Pada awal bergabung perasaan takut salah sering muncul. Tetapi Om Jay meyakinkan bahwa tulis saja apa yang kita pikirkan jangan permasalahkan EYD atau kaidah kebahasaan yang lain cukup tulis saja hingga selesai. Jika sudah membaca berulang ulang lalu lakukan editing sesuai kaidah. Jika sejak awal memilikirkan EYD maka tidak akan terwujud tulisan. Dengan mempraktekkan langsung akhirnya tulisan mengalir sendiri. Sebenarnya kalimat itu adalah untuk memotivasi orang orang yang ingin belajar menulis. Tujuannya adalah  melahirkan sebuah persepsi bahwa memang menulis itu mudah sekali. Tulis saja apa yang ada dan kita alami. Umumnya semua pemula dalam hal apapun takut melakukan kesalahan. Rasa takut itulah yang menjadi beban yang akhirnya justru membuat kita terjebak dalam kesalahan. Tidak takut salah dalam menulis akan membuat kita lebih cepat bisa dan berani mengungkapkan isi kepala dan hati. Sehingga memiliki keberanian dan kepercayaan diri terhadap hasil tulisan kita. Untuk bisa menulis dengan baik perbanyak membaca setelah itu tentukan tema yang akan ditulis dan mencari referensi baik dari buku sejenis atau jurnal ilmiah, lalu dan menulislah. Fokuslah pada tema yang ingin ditulis hingga selesai.Yang paling penting dari penulisan buku adalah dengan membuat outline agar tulisan kita tidak keluar dari tema.

 

Berkarya ketika waktu luang itu biasa namun berkarya di tengah kesibukan yang luar biasa itu istimewa.

         

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar