Pelangi Aksara

Rabu, 06 Januari 2021

Menulis Reportase

 

Menulis berita, peristiwa, laporan pandangan mata dari lapangan atau istilah jurnalistiknya reportase. Secara tertulis atau (kadang) dilengkapi foto dari TKP (istilah kepolisian tempat kejadian perkara) ke kantor redaksi koran/media.  Reportase merupakan keterampilan dasar sekaligus tugas utama seorang wartawan. Reportase merupakan bagian dari pembuatan berita.

Reportase bisa dikatakan merupakan proses terpenting karena dari proses inilah terkumpul bahan atau informasi untuk diberitakan. Reportase merupakan laporan keadaan suatu tempat atau kejadian yang ditulis secara lengkap dan cermat. Reportase biasanya ditulis atau dilaporkan oleh seorang wartawan mengenai peristiwa yang dilihatnya.

Kegiatan ini sangat penting dalam menghasilkan sebuah berita, informasi yang terkandung dalam reportase merupakan fakta yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan narasumber yang kemudian diolah menjadi satu berita yang komplit. Berita yang baik adalah berita yang menyajikan fakta fakta secara jujur, obyektif. Oleh karena itu untuk menulis sebuah reportase haruslah mempunyai sifat jujur, obyektif dan tidak memihak.

Unsur unsur berita

Untuk menulis sebuah berita yang baik harus memenuhi unsure 5W + 1H sehingga menghasilkan berita yang lengkap. Unsur berita tersebut meliputi:

1.    What (apa) yaitu peristiwa apa yang akan ditulis atau diberitakan

2.    Who (siapa) yaitu siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut

3.    Where (dimana) yaitu dimana terjadinya peristiwa yang ingin ditulis atau diberitakan

4.    When (kapan) yaitu kapan waktu kejadian atau peristiwa itu terjadi

5.    Why (mengapa) yaitu mengapa peristiwa itu terjadi atau alasan serta penyebab yang menjadi latar belakang terjadinya peristiwa

6.    How (bagaimana) yaitu bagaimana kejadian itu terjadi atau proses kejadian atau peristiwa yang ingin ditulis /diberitakan.

Jika semua unsur di atas telah terpenuhi maka suatu berita atau reportase bisa dikatakan lengkap.

Untuk menulis reportase yang baik ada tekniknya:yaitu:

1.    Observasi

Yaitu wartawan langsung datang ke lokasi kejadian mengamati dan mengumpulkan data data atau fakta terkait 5W1H. Dengan menggunakan semua indera saat melakukan pengamatan. Dengan terjun langsung ke lapangan reportase akan merasakan langsung peristiwa yang terjadi di lapangan sehingga ia bisa menyampaiakan informasi yang valid kepada pembaca

2.    Wawancara

Wawancara adalah proses reportase dengan cara bertanya kepada narasumber untuk menggali informasi atau keterangan.Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat opini dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa yang terjadi

3.    Riset data

Yang disebut juga studi literature dan riset dokumentasi yaitu wartawan membuka arsip, buku atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulis.

 

Reportase merupakan laporan keadaan suatu tempat yang ditulis secara lengkap. Nah, ada perbedaan pola penulisan berita di koran/media dengan menulis bebas untuk artikel di media. Tentu berbeda lagi jika menulis untuk karangan ilmiah, skripsi, makalah, tesis atau disertasi. Di media, ada format atau standar baku, yakni berita tidak boleh (dilarang) memasukkan opini penulisnya atau wartawannya. Tapi si wartawan ingin menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, boleh saja. Ada tempat khusus yakni opini, artikel, yang by name.

Untuk rubrik artikel di media, sudah disiapkan, baik koran, majalah, tabloid, dan lain lain. Selain wartawan sebagai  tugas utamanya, rubrik opini ini bisa diisi oleh orang luar. Maksudnya pembaca, sesuai keahlian dan bidang yang dikuasainya. Untuk tulisan ini, ada kompensasi dari redaksi media tersebut, berupa honorarium yg besarnya tergantung kemampuan media yang bersangkutan Mereka yang ahli/pakar satu bidang ilmu, bahkan menjadi penulis tetap, yang tentu honornya juga lumayan. Saat ini media besar seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Media Indonesia dan beberapa majalah menerapkan standar honor.

Sayangnya dengan datangnya era digital ini, media cetak dan sebangsanya, banyak yang tiarap lalu tidur untuk selamanya. Kini era berganti dengan online Satu sisi mengurangi pasar media cetak, sisi lain membuka peluang baru sebagai netizen, atau citizen jurnalis. Media Informasi pun semakin memiliki banyak pilihan. Dulu harus ke lapak kaki lima, lampu merah, pengecer, agen untuk dapat membeli koran/majalah, sekarang cukup dengan gadget atau hp, dunia sudah terbentang luas.

Jadi benar kata orang, untuk mahir menulis harus banyak membaca. Ya minimal membaca ulang tulisan sendiri dimana kekurangannya, ejaannya dan lain lain.  Untuk mahir menulis, harus banyak membaca.  dengan banyak membaca akan memperkaya perbendaharaan kata (diksi), belajar EYD atau istilah sekarang adalah PUEBI serta menambah wawasan, terutama bagaimana format menulis yang baik, belajar menyusun paragraf, huruf sambung, istilah istilah baru dan lain lain.

Yang lebih terasa lagi, dengan banyak membaca tulisan orang lain, kita belajar style (gaya) penulisan orang. Kita bisa meniru untuk kemudian akan muncul gaya khas kita sendiri. Menulis dengan kunci 3D. Tulislah yang D-ialami sendiri, yg D-isukai, yg D-ikuasai.  Rajin membaca, nonton TV/film, dengar radio untuk memperkaya wawasan sebagai tabungan ide kalau mau menulis, terutama genre fiksi.  

Tips menulis yang bisa dilakukan juga menurut bapak Nur Aliem Halvaima, SH, MH adalah,

1.    PDLS = Peka Dengan Lingkungan Sekitar (KEPO),

2.    TBTO = Terus Belajar atau Baca (dari) Tulisan Orang

3.    TLMM = Terus Latihan Menulis di Media (Medsos)

4.    TILM = Terus Ikut Lomba Menulis, sebagai uji coba sejauh mana kualitas tulisan kita

Percaya diri terhadap tulisan anda dan berani mengirim tulisan ke media untuk ikut lomba atau diterbitkan akan menjadi langkah awal untuk tetap semangat menulis dan menghasilkan karya selanjutnya, sehingga karya atau tulisan anda bisa dikenal oleh orang lain. Ketika tulisan anda dimuat atau diterbitkan menjadi sebuah buku akan menambah semangat untuk menulis yang lebih baik lagi dan memiliki kebahagian serta kebanggaan tersendiri karena dapat menghasilkan sebuah karya yang bisa dikenang oleh anak cucu kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar