Menulis
berita, peristiwa, laporan pandangan mata dari lapangan atau istilah
jurnalistiknya reportase. Secara tertulis atau (kadang) dilengkapi foto dari
TKP (istilah kepolisian tempat kejadian perkara) ke kantor redaksi koran/media.
Reportase merupakan keterampilan dasar
sekaligus tugas utama seorang wartawan. Reportase merupakan bagian dari
pembuatan berita.
Reportase
bisa dikatakan merupakan proses terpenting karena dari proses inilah terkumpul
bahan atau informasi untuk diberitakan. Reportase merupakan laporan keadaan
suatu tempat atau kejadian yang ditulis secara lengkap dan cermat. Reportase
biasanya ditulis atau dilaporkan oleh seorang wartawan mengenai peristiwa yang
dilihatnya.
Kegiatan
ini sangat penting dalam menghasilkan sebuah berita, informasi yang terkandung
dalam reportase merupakan fakta yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan
narasumber yang kemudian diolah menjadi satu berita yang komplit. Berita yang
baik adalah berita yang menyajikan fakta fakta secara jujur, obyektif. Oleh
karena itu untuk menulis sebuah reportase haruslah mempunyai sifat jujur,
obyektif dan tidak memihak.
Unsur
unsur berita
Untuk
menulis sebuah berita yang baik harus memenuhi unsure 5W + 1H sehingga
menghasilkan berita yang lengkap. Unsur berita tersebut meliputi:
1. What
(apa) yaitu peristiwa apa yang akan ditulis atau diberitakan
2. Who
(siapa) yaitu siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut
3. Where
(dimana) yaitu dimana terjadinya peristiwa yang ingin ditulis atau diberitakan
4. When
(kapan) yaitu kapan waktu kejadian atau peristiwa itu terjadi
5. Why
(mengapa) yaitu mengapa peristiwa itu terjadi atau alasan serta penyebab yang
menjadi latar belakang terjadinya peristiwa
6. How
(bagaimana) yaitu bagaimana kejadian itu terjadi atau proses kejadian atau
peristiwa yang ingin ditulis /diberitakan.
Jika
semua unsur di atas telah terpenuhi maka suatu berita atau reportase bisa
dikatakan lengkap.
Untuk
menulis reportase yang baik ada tekniknya:yaitu:
1. Observasi
Yaitu
wartawan langsung datang ke lokasi kejadian mengamati dan mengumpulkan data
data atau fakta terkait 5W1H. Dengan menggunakan semua indera saat melakukan
pengamatan. Dengan terjun langsung ke lapangan reportase akan merasakan
langsung peristiwa yang terjadi di lapangan sehingga ia bisa menyampaiakan
informasi yang valid kepada pembaca
2. Wawancara
Wawancara
adalah proses reportase dengan cara bertanya kepada narasumber untuk menggali
informasi atau keterangan.Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara
mengumpulkan data berupa pendapat opini dan pengamatan seseorang tentang suatu
peristiwa yang terjadi
3. Riset
data
Yang
disebut juga studi literature dan riset dokumentasi yaitu wartawan membuka
arsip, buku atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulis.
Reportase
merupakan laporan keadaan suatu tempat yang ditulis secara lengkap. Nah, ada
perbedaan pola penulisan berita di koran/media dengan menulis bebas untuk
artikel di media. Tentu berbeda lagi jika menulis untuk karangan ilmiah,
skripsi, makalah, tesis atau disertasi. Di media, ada format atau standar baku,
yakni berita tidak boleh (dilarang) memasukkan opini penulisnya atau
wartawannya. Tapi si wartawan ingin menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran,
boleh saja. Ada tempat khusus yakni opini, artikel, yang by name.
Untuk
rubrik artikel di media, sudah disiapkan, baik koran, majalah, tabloid, dan
lain lain. Selain wartawan sebagai tugas
utamanya, rubrik opini ini bisa diisi oleh orang luar. Maksudnya pembaca,
sesuai keahlian dan bidang yang dikuasainya. Untuk tulisan ini, ada kompensasi
dari redaksi media tersebut, berupa honorarium yg besarnya tergantung kemampuan
media yang bersangkutan Mereka yang ahli/pakar satu bidang ilmu, bahkan menjadi
penulis tetap, yang tentu honornya juga lumayan. Saat ini media besar seperti
Kompas, Majalah Tempo, Republika, Media Indonesia dan beberapa majalah
menerapkan standar honor.
Sayangnya
dengan datangnya era digital ini, media cetak dan sebangsanya, banyak yang
tiarap lalu tidur untuk selamanya. Kini era berganti dengan online Satu sisi
mengurangi pasar media cetak, sisi lain membuka peluang baru sebagai netizen,
atau citizen jurnalis. Media Informasi pun semakin memiliki banyak pilihan.
Dulu harus ke lapak kaki lima, lampu merah, pengecer, agen untuk dapat membeli
koran/majalah, sekarang cukup dengan gadget atau hp, dunia sudah terbentang
luas.
Jadi
benar kata orang, untuk mahir menulis harus banyak membaca. Ya minimal membaca
ulang tulisan sendiri dimana kekurangannya, ejaannya dan lain lain. Untuk mahir menulis, harus banyak membaca. dengan banyak membaca akan memperkaya
perbendaharaan kata (diksi), belajar EYD atau istilah sekarang adalah PUEBI
serta menambah wawasan, terutama bagaimana format menulis yang baik, belajar menyusun
paragraf, huruf sambung, istilah istilah baru dan lain lain.
Yang
lebih terasa lagi, dengan banyak membaca tulisan orang lain, kita belajar style (gaya) penulisan orang. Kita bisa
meniru untuk kemudian akan muncul gaya khas kita sendiri. Menulis dengan kunci
3D. Tulislah yang D-ialami sendiri, yg D-isukai, yg D-ikuasai. Rajin membaca, nonton TV/film, dengar radio untuk
memperkaya wawasan sebagai tabungan ide kalau mau menulis, terutama genre
fiksi.
Tips
menulis yang bisa dilakukan juga menurut bapak Nur Aliem Halvaima, SH, MH adalah,
1. PDLS
= Peka Dengan Lingkungan Sekitar (KEPO),
2. TBTO
= Terus Belajar atau Baca (dari) Tulisan Orang
3. TLMM
= Terus Latihan Menulis di Media (Medsos)
4. TILM
= Terus Ikut Lomba Menulis, sebagai uji coba sejauh mana kualitas tulisan kita
Percaya
diri terhadap tulisan anda dan berani mengirim tulisan ke media untuk ikut
lomba atau diterbitkan akan menjadi langkah awal untuk tetap semangat menulis
dan menghasilkan karya selanjutnya, sehingga karya atau tulisan anda bisa
dikenal oleh orang lain. Ketika tulisan anda dimuat atau diterbitkan menjadi
sebuah buku akan menambah semangat untuk menulis yang lebih baik lagi dan
memiliki kebahagian serta kebanggaan tersendiri karena dapat menghasilkan
sebuah karya yang bisa dikenang oleh anak cucu kita kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar