Salah
satu bentuk pengembangan diri dalam mengeksplore kompetensi dalam menulis adalah dengan cara bergabung
dalam satu komunitas positif seperti WA Grup Belajar Menulis. Bukan tanpa alasan,
tentunya setiap orang yang bergabung punya harapan yang ingin dicapai. Terkait
dengan hal tersebut Kata “ekspektasi”
tentunya sudah sangat familiar di telinga. Setiap orang, setiap saat pasti
memiliki ekspektasi terhadap berbagai hal yang di inginkan dalam hidup. Sebagai
contoh, ekspektasi ketika bergabung
dalam grup menulis ini adalah ingin menghasilkan sebuah karya berupa jejak
literasi yang dapat dikenal dan dikenang meskipun sudah berkalang tanah. Sayangnya, ekspektasi
kita tidak selalu sama dengan realita. Ekspektasi tak seindah kenyataan. Hal
inilah yang kemudian menjadi inspirasi dalam tulisan buku ke-2 Ibu Jamila
K.Baderan yang diterbitkan pada tahun 2019.
Dalam
hal menulis, harapan terbesar kita adalah mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah
paragraf menarik yang terus berangkai menjadi bab demi bab hingga akhirnya
menjadi sebuah buku. Sekilas, menulis adalah hal yang sangat mudah. Bukankah
kita sudah sering menulis sejak kecil? Tetapi, ketika kemampuan menulis
tersebut disandingkan dengan ekspektasi sebuah karya yang bernilai bagi orang
lain muncullah masalah besar. diantaranya ,
1. Bagaimana memulai sebuah tulisan?
2. Apa ide/topik yang harus kita tulis?
3. Apakah tulisan saya menarik?
Mewujudkan
ekspektasi memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bagi
para penulis pemula. Dalam prosesnya kita harus berjuang melawan semua hambatan
yang datang baik dari diri sendiri mapun dari lingkungan sekitar.Sebenarnya,
tantangan menulis terbesar itu ada pada diri kita sendiri. Yaitu mood dan
kemauan alias niat. Oleh karena itu untuk mengubah ekspektasi menjadi prestasi
kita harus berubah. Ada 2 hal penting yang harus kita ubah, yaitu mindset dan
passion. Mindset adalah cara pikir tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi
sikap dan tindakan kita. Sementara passion adalah sesuatu yang membuat kita
tidak pernah merasa bosan.Kedua hal ini di bahas secara detail dalam buku saya
yang ketiga hasil kolaborasi bersama Prof. Eko Indrajit yang Alhamdulillah di
terima dan diterbitkan oleh Penerbit Andi.
Pengalaman
saya dalam mewujudkan ekspektasi dalam menulis adalah berjuang membangun
tekad dan keyakinan yang kuat untuk
mencapai realitas. Terkadang saya juga harus nekat mengambil keputusan yang
jika dipikir dengan akal sehat pencapaiannya sangat mustahil. Untuk itulah saya
selalu berusaha konsisten terhadap ekspektasi yang susah payah saya bangun.
Pantang mundur jika kaki sudah melangkah.
Saat
menerima tantangan Prof. Eko untuk menulis buku dalam seminggu, ada sejuta
keraguan yang menyelimuti hati dan pikiran saya. Berbagai pemikiran negatif
menghantui, namun berkat kenekatan, dibarengi niat, tekad, serta konsistensi
yang kuat akhirnya ekspektasi saya berubah menjadi sebuah prestasi. Saat Pak
Joko mengumumkan bahwa tulisan saya lolos tanpa revisi, saya seolah tak
percaya. Tidak pernah menyangka bahwa tulisan yang menurut penilaian pribadi
hanyalah tulisan biasa saja ternyata memiliki takdir luar biasa.
Dari
pengalaman ini saya belajar beberapa hal dalam menulis:
1. Tulislah
apa yang ingin kita tulis.
Biasanya,
kendala di awal kita menulis adalah bingung mencari ide. Tidak tahu apa yang
akan kita tulis. Untuk mengatasinya, marilah kita mulai menuliskan hal-hal
kecil yang ada di sekitar kita. Mis: tentang hobi memasak, kegiatan
sehari-hari, atau tingkah lucu anak-anak kita.
2. Menulislah
apa adanya, tanpa beban, dan tekanan.
Tuliskan
apa saja yang terlintas dalam pikiran. tidak perlu kita memikirkan tata bahasa,
ejaan dls. Setiap kalimat yang terlintas segera di tulis. saya biasanya menulis
di HP. kadang saat tidak pegang HP, saya akan menuliskan di benda apa saja yang
saya temui. Pernah saya nulisnya di telapak tangan, pernah juga di paham Hal yang paling sulit untuk memenuhi
ekspektasi menulis adalah ketika kita tidak punya hobi menulis. Kata orang
hanya "Iseng-iseng" atau ikut-ikutan. Tidak masalah, jika kita tidak
memiliki hobi, bukankah rasa iseng jika terus dilatih bisa menjadi suatu
ketrampilan?
3. Jadikan
menulis sebagai suatu kebutuhan
Saya
termasuk orang yang menulis tergantung mood. Ini sangat berat saya rasakan
ketika menerima tantangan Prof. Eko.
Rasanya bulan dan matahari berpindah tempat. Disaat seperti inilah saya
menguatkan tekad dan niat saya untuk mencapai realitas. Jadi, menulis itu
adalah sebuah perjuangan untuk melawan semua tantangan yang menggoyahkan niat.
4. Menulislah
hingga tuntas, jangan memikirkan editing.
Hal
yang menjadi fokus saya dalam menulis adalah kata TUNTAS. Jadi, menulislah
hingga tuntas. Jangan sering menengok halaman yang sudah kita tulis, karena itu
merupakan salah satu godaan yang membuat kita berpikir 1.000 kali tentang apa
yang sudah kita tulis. kita akan berpikir untuk edit dan edit lagi. akhirnya
tulisan kita tidak tuntas.
5. Menulis
jangan terlalu lama.
terkait
dengan tantangan menulis terbesar itu ada pada diri kita sendiri yaitu mood dan
niat, namun yg sy rasakan yg paling besar adalah kemampuan saya, Ini yg sering
menghabiskan waktu lama ketika menulis Perlu waktu lama bagi saya untuk
mengasah kemampuan itu.
6. Jangan
memikirkan baik buruknya tulisan kita, karna yang akan menilai adalah pembaca
Saya
sering terjebak kebuntuan bila menulis kemudian menilai ada gak manfaatnya bagi
orang lain,layak ngga ditulis., Karena untuk sekarang sy baru bisa menulis what
to write dan blm what is it for. Jd rasanya masih jauh panggang dr api ttg ekspektasi
itu.
tips
yang saya gunakan dalam merangkai kata cukup sederhana. Saya menggunakan kata
apa saja yang terlintas dalam pikiran saya. Kata-kata yang digunakan tidak
harus kata-kata rumit. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh orang lain.
Memang kendala terbesar dari diri kita sendiri bisa bermacam-macam. Masalah
yang dihadapi terkait dengan kemampuan itu disebabkan karena sering menulis dengan beban. Beban tentang baik
buruknya tulisan kita. Cobalah menulis seperti yang sudah saya paparkan tadi.
Menulis secara lepas dan bebas. Lepas dari beban terkait penilaian orang
terhadap tulisan kita, sehingga kita bisa bebas mengekspresikan diri kita dalam
tulisan.
Proses
kreatif yang harus dilakukan dalam menghasilkan buku tidak terlepas dari
kegiatan membaca. Jadi, menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang yang
harus dimiliki oleh seorang penulis. Menulis tanpa pernah membaca akan pincang.
Artinya tulisan kita kurang menarik. Menghasilkan buku dalam seminggu terdengar
mustahil. Prosesnya jungkir balik, hingga siang dan malampun ikut terbalik. Hal
pertama yang lakukan di awal adalah
mencari menentukan judul dan kerangka tulisan. lalu berburu referensi sambil
menyusun paragraf demi paragraf. Ya itu tadi, pokoknya tuntas dulu semua bab,
terakhir sesi editing.
Jika
muncul peranyaan dibenak anda bagaimana mempublikasikan hasil tulisan anda?. Di
Jaman sekarang, publikasi sangat dipermudah karena ada begitu banyak jejaring
sosial yang bisa kita manfaatkan. Disamping menawarkan door to door, kita bisa posting melalui WA, Instag,
FB, Youtube, dll. jangan lupa buat flyer dan kata-kata menarik dan foto
ekslusif, seperti orang jualan gitu. Namanya juga menawarkan. Yang penting
harus jujur dan tidak ada kebohongan publik dalam iklan buku kita.
Selanjutnya
bagaimana cara merangsang potensi diri kita, sehingga potensi itu bisa
merangsang pikiran . Berbicara tentang potensi diri. Kembali lagi ke 2 hal yang
harus kita ubah dalam hidup kita yang sudah dijelaskan di awal. yaitu mindset
dan passion. saat keduanya seiring sejalan, dengan sendirinya kita akan happy
enjoy dalam menulis. Mulailah dengan melihat apa saja yang ada di depan kita,
lalu cobalah untuk mendeskripsikannya. Saat jemari kita mulai menulis, maka ide
lain akan datang dengan sendirinya. Kuncinya adalah percaya diri. Setiap kita
memiliki potensi, dan potensi kita perlu di asah agar menjadi kompetensi.
Hal
yang sering mengganggu bahkan bisa sebagai pemupus harapan dalam menulis.
Jadikan menulis sebagai suatu kebutuhan.Jangan memikirkan baik buruknya tulisan
kita, karena yang akan menilai adalah pembaca. Perasaan ini sering mengganjal
diri seseorang, sehingga sering selesai menulis menjadi mentok akibat
menanggung rasa malu akan hasil karya kita.
Pertanyaan
besar yang perlu kita renungkan bersama adalah bagaimana menulis dan
menerbitkan buku di tengah minat baca yang semakin menurun. Secara nasional,
memang minat dan budaya baca kita masih rendah. Disinilah peran kita sebagai
guru, orang tua, dan orang yang peduli
dengan kependidikan untuk kembali membangun budaya membaca generasi kita yang
selalu pasang surut. Membaca dan menulis adalah 2 hal yang tidak bisa
dipisahkan. semakin suka membaca, maka semakin mudah menulis. Menjadikan
menulis sebagai kebutuhan, artinya kita menjadikan membaca sebagai makanan kita.
Agar
kita bisa keluar dari zona tidak nyaman, menulislah seperti air mengalir.
Maksudnya tulislah apa yang ingin kita tulis. Abaikan penilaian orang tentang
tulisan kita. Biarkan tulisan tersebut selesai kita tulis secara tuntas, lalu
biarkan orang lain menilai. Karena penilaian orang lain biasanya lebih baik
dari kita. Percaya dirilah dengan tulisan anda. Terkadang sudah memiliki ide/tema menulis tapi saya
suka bingung mau menulis dari mana dan pengetahuan akan tema tersebut masih
minim padahal anda sangat tertarik untuk menulis hal tersebut. Bagaimana
solusinya? Punya ide, tapi bingung mau mulai menulis dari mana. Jangan bingung,
mulai saja menulis dengan kata yang terlintas dalam pikiran. jangan memikirkan
tulisan ini cocoknya di pendahuluan, atau di bab 1, dst. Tulis dan tulis saja
setiap kita punya ide. saat kita benar-benar bingung dalam menulis, maka
berhentilah menulis dan membacalah. Saat kita membaca, kita akan menemukan
kembali ide yang terbang entah kemana. Saat ide itu muncul, jangan di tunda
segeralah di tulis.
Membuat
judul tulisan yang baik, sebenarnya sangat bergantung dari minat. Kita
cenderung sukanya menulis di bidang apa. Kita suka menulis fiksi atau non
fiksi. Untuk memilih judul tentunya kita perlu referensi terkait konten yang
akan kita tulis. Kita bisa browsing di internet sambil melakukan inovasi untuk
judul yang kita buat. semakin banyak referensi judul yang kita lihat maka akan
semakin baik judul yang kita tulis. untuk referensi tipe-tipe judul, silahkan
intip di si https://marketingcraft.getcraft.com/id-articles/7-tipe-judul-artikel-untuk-meningkatkan-traffic-blog-anda
Ide
menulis bisa datang dari mana saja. Kebanyakan dari lingkungan sekitar. agar
karya kita menarik sebelum menulis buku kita harus cari tahu hal/isu yang
menjadi trending topik dan tidak akan ketinggalan jaman. Dalam hal ekspektasi
menerbitkan buku tentu saja pernah merasakan yang tidak sesuai harapan. cara
mengatasinya kembali kepada : bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini,
kesempurnaan hanyalah milik Dia. cara kita menularkan hobi menulis yang paling efektif adalah dengan bukti.
Tunjukkan bahwa kita bisa berkarya, dan merekapun bisa seperti kita. tidak ada
hal yang tidak bisa, dan tidak ada hal yang tidak mungkin.
Menulis
merupakan suatu tantangan antara harapan dan kenyataan. Ekspektasi dalam
menulis harus terus kita perjuangkan dengan niat, tekad, nekad dan konsisten.
Realitas berupa prestasi adalah buah dari perjuangan. Maka berjuanglah
menuntaskan karyamu, agar jejak yang ditinggal bermanfaat bagi generasi setelah
kita.
(Resume Ibu Jamila K.Baderan Beliau adalah salah satu guru di SDN No.30 Kota Gorantalo, Provinsi Gorontalo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar